Tampilkan postingan dengan label Goresan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan. Tampilkan semua postingan

Pangeran Masa Lalu


Inilah mungkin caranya

Baik cara pengenalan dirinya

Halus penuturan bahasanya 

Teratur sedemikian rupa emosinya

Benar-benar mendapatkan tempat istimewa disini ... 

Janganlah ego merusak pemahaman baik ini

Dihatiku Tuhan, jagalah perasaan ini 

Biarkan perasaan ini mekar sesuai kehendak-Mu

Jaga hatiku dan hatinya Aku nyaman bersamanya 

Tetapi hati kami sungguh melebur menjadi satu

Iya, sebatas tempat kami berpisah Dia, lelaki istimewa 

Dia, tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan caranya yang istimewa

Dia, lelaki manis yang tangguh 

Dia, lelaki yang sangat menyayangi ibunya 

Diantara deretan lelaki yang pernah ada jika dibandingkan dialah yang paling menantang.

Dia suka tantangan sepertiku, mau belajar dan selalu ingin belajar lebih adalah sifat mendasar kami yang terlalu mirip kesamaannya.

Dia, lelaki dalam paket-Mu yang sungguh istimewa

Aku menyayanginya 

Dia datang membawa energi positif, yang aku selalu ingin tahu lebih dalam tentang dirinya, siapa ia, dan bagaimana kehidupannya.

Dia, sederhana.

Tidak mencolok tetapi sangat elegan.

Dan dia, jago berbahasa asing, bagaimana aku mampu menolak kehadirannya yang selama ini aku temui dalam mimpi indah disetiap malam ditidurku.

Ini nyata, pangeran itu nyata adanya ... dia memang tidak datang bersama kuda sembrani putih, apalagi membawaku ke istana besar miliknya.

Dia, datang membawa cinta..

Dia, datang untuk menutup segala luka perih lama...

Dia, datang untukku, untuk masa depankku... 

Iya, setelah seminggu kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Apakah ini terlalu cepat?

Tapi biarlah, biarlah perasaan ini mengalir menuju muara cinta kami, atau bahkan tak bermuara sama sekali, tak berbatas, tak terhingga, berulang, dan tak terbilang.

Selalu ingin belajar lebih, itu satu kesamaan yang membuatku ingin mengeksplorasi kemampuan diri bersamanya.

Itu merupakan suatu tantangan tersendiri, jika seorang pasangan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk pasangannya itu.

Ssstt, tunggu dulu ... pasangan? 

Itulah harapan terbesarku, bersama oorang yang kita sayangi dan menyayangi kita, tidakkah kau tahu bagaimana itu?

Aku memililihnya bukan semata menjadikan dirinya menjadi deretan mantan.

Aku selalu ingin hubunganku menjadi hubungan yang lama waktunya, banyak cobaannya, dan besar pengorbanannya.

Agar cinta kami semakin tumbuh, mengakar, dan takkan goyah nantinya.

Ya. Takkan kau temui kata bagaimana untuk mewakili perasaan itu.

Hanya... dentak jantung yang lebih cepat dari biasanya, darah yang mengalir deras dari biasanya, pikiran yang tidak karuan rasanya, tubuh yang dingin dari biasanya, 

Sayang, ,,,dan nyaman yang lebih dari biasanya, sebatas rasa nyaman... tidakkah kita akan nyaman jika ada bodyguard yang selalu menjaga kita 24 jam non stop agar kita terlindung, aman dan terkendali?

Bukan, ini adalah hati yang dijaga perasaannya. 

Dia telah menjadi bingkai yang sangat pas menjaga hatiku ini.

Rumahmu



Sayang, katakan pada mereka. Yakinkan kepada mereka bahwa aku tidak sekampungan mantan kekasihmu yang lalu. Aku diberi otak yang sungguh luar biasa oleh Tuhanku, sehingga aku berpikir. Betapa ruginya jika aku menunjukkan ketidaksenanganku kepada dia. Baik secara finansial, psikis, dan sosial. Sampaikan salamku pada wanita orang tuamu itu. Tanpa aku merebutmu, hatimu memang utuh milikku. Untuk apa aku mengotori hatiku dengan merusak hubungan kalian yang sejak awal memang telah rusak? Bukankah itu hanya membuang waktuku?

Sayang, beri tahu dia. Aku tidak ingin mengetahui apapun tentangnya. Apapun. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya membatasi apa yang seharusnya aku ketahui dan tidak. Jangankan menggangunya, bahkan siapa namanya pun aku tak tertarik untuk mengetahuinya. Aku tau, dia istimewa untuk orang tuamu. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting, bagimu, dia bukan apa-apa. Seperti yang sering kau katakan.

Sayang, jelaskan pada mereka. Dalam cerita selalu ada protagonis dan antagonis. Bukan aku yang merusak hubunganmu dengannya. Barangkali, dia yang merusak kebahagiaan kita. Karena sesungguhnya, kita pemain utamanya. Dia hanya figuran, yang mungkin sebentar lagi sudah tidak lagi ditampilkan. Saranku, nikmati saja perannya untuk saat ini. Untuk sekedar menambah seru suasana, mungkin.

Sayang, kau pun harus tau. Memang, aku sempat khawatir akan kehilangan hatimu yang mencintaiku. Namun, sekarang tidak ada yang perlu aku takutkan. Aku tidak takut akan kesalahanku kali ini, yakni mempertahankanmu. Aku juga tidak takut dengan ketidaksetujuan orang tua kita. Karena memiliki hatimu, sudah lebih dari benteng keberanian untukku. Kau mungkin tidak menentang pinta orang tuamu. Setidaknya kau tidak membohongi hatimu sendiri. Kau selalu mencintaiku.

Sayang, umumkan pada dunia. Hati kita tak kan berubah. Selama hati kita mempunyai tujuan yang sama. Aku selalu percaya Tuhan akan mengasihani kita. Tuhan hanya meminta kita bersabar, berdoa dan berusaha. Orang tuamu bisa apa jika Tuhan menginginkan kau denganku?? Bukankah hati bagian dari amanahNya? Hatiku, masih rumahmu. Tempatmu untuk pulang..

*****

Pengirim: KIKI

Intinya, Hati Ini Masih Milikmu

Ini bukan perihal siapa yang bersalah. Akan tetapi, siapa yang terluka. Sesungguhnya, aku menyayangimu di setiap keadaan, mas. Sesuka, dan sesukar apapun. Aku selalu bahagia saat bersamamu, aku menyukai detak jantungmu, bahkan aku menyukai segala kebiasaan burukmu. Aku mencintaimu seutuhnya, aku wanita yang membutuhkanmu sepenuhnya. Semakin lama, semakin kuat rasa dalam dada. Semakin menderita bila kau jauh di mata. Aku menikmati setiap jengkal waktu yang Tuhan beri untuk kita. Denganmu aku merasa nyaman, denganmu aku ingin melewati setiap senja hingga menua.

Tiba-tiba ada yang mengusik relung di hati. Rasa nyaman, sudah tak seaman dulu. Akupun tidak percaya pada diriku sendiri. Mengapa ini semua bisa terjadi? Tidak pernah terpikir bahwa apa yang dulu menjadi cita, saat ini hanya sebuah cerita. Bagaimana mungkin pria yang dulu sepenuhnya adalah milikku, kini telah diikat oleh orang tuanya bersama hati yang lain. Siapa yang sebenarnya terluka? Aku,kamu, orang tua kita, atau hati yang lain itu?




Selain rasa cinta yang sangat besar, rasa bersalah yang cukup dalam juga sedang menggerogoti dada. Siapa sebenarnya hati pilihan orang tuamu itu? Siapa wanita yang mau-maunya menerima pria yang baru saja menanggalkan kisahnya denganku?Apa dia tidak pernah tahu tentang kita? Mana mungkin dia tidak mengetahui? Bukankah kau bilang, orang tuamu melakukan ini hanya untuk meredam kisah kita yang gagal karena terlanjur mencuat ke permukaan? Apa dia menerimamu karena terpaksa? Atau, sebenarnya diam-diam dia telah mengincarmu, untuk merebutmu dari sisiku? Aku mencoba mencari jawaban di dalam dada, namun tidak ada yang aku temukan kecuali kita. Tidak ada dia, tidak ada mereka. Hanya kita.

Apa menginginkanmu saat ini adalah kesalahan? Atau memang keadaan yang memaksa rasa ini menjadi salah? Apa aku telah mencoba merebutmu dari hati yang lain itu? Bukankah kau bilang tidak mengenalnya, mas? Bukankah kau bilang, melakukannya karena terpaksa? Bukankah seutuhnya hatimu adalah milikku? Jika iya, aku akan mempertahankan kita sampai dimana aku harus menyerah.

Meski mencintaimu sudah tidak leluasa, tapi cinta dalam dada takkan goyah. Bukankah kita pernah berjanji? Kita takkan tertanggal, kecuali salah seorang dari kita mendua. Jangankan keputusan orang tua, bahkan keputusan Tuhanpun bisa kita ubah dengan doa, bukan? Mungkin Tuhan menuntut kita untuk tetap bersabar, meski monster yang kita hadapi cukup besar.

Aku tidak bisa memilih. Meninggalkanmu yang aku kasihi atau membuatmu lebih lama menyakiti. Ini bukan pilihan, dan bahkan mencintaimu bukan kesengajaan. Apakah cinta memang begini? Masih sanggupkah bertahan, meski banyak hati yang tersakiti. Satu alasan dibalik banyak ulasan, aku mencintaimu sesungguh-sungguhnya, mas.

Baca juga: Kepada Ibu yang Kusemogakan Menjadi Ibuku Juga


Pilihlah Seseorang...


Pilihlah Seseorang...

Yang baik agamanya, karena seseorang yang baik agamanya, akan memuliakanmu dan akan berpikir seribu kali sebelum menyakitimu.

Yang ikhlas menerima kesalahan dan mau belajar dari setiap kesalahan, karena yang seperti itu akan menjadikanmu kuat dalam menjalani lika-liku kehidupan.

Pilihlah seseorang...

Yang jujur dari hatinya, bukan yang jujur hanya dari mulutnya yang berbisa.

Yang bisa merasakan kesedihanmu dibalik senyumanmu.

Yang mampu memahami pikiranmu disaat kamu terdiam.

Yang tetap bisa merasakan kasih sayangmu disaat kemarahanmu.

Terkadang...

Kamu perlu berlari jauh, agar kamu tahu siapa yang akan datang menyusulmu.

Kamu harus berbicara dengan bisikan, agar kamu tau siapa yang masih mau mendengarkanmu.

Kamu butuh melibatkan diri ke dalam sebuah perbedaan, agar kamu tau siapa yang masih akan membelamu.

Kamu perlu mencoba mengambil keputusan yang salah, agar kamu tau siapa yang akan menunjukkanmu keputusan yang benar.

Kamu harus melepaskan orang yang sangat kamu cintai, agar kamu tau apakah dia akan kembali setia di sisimu. 

Sesungguhnya...

Ketika kita bersembunyi, adalah cara untuk melihat siapa yang mau berusaha menemukan kita.

Ketika kita berjalan jauh, adalah cara untuk tau siapa yang masih setia mengikuti kita.

Ketika kita menangis, ialah agar kita tau siapa yang dengan ikhlas menghapus air mata kita.

Dan...

Dia yang peduli padamu, akan berusaha segala cara untuk membuat hidupmu berbalut bahagia penuh senyuman.

Sementara dia yang tidak peduli padamu, akan mencari-cari kesalahan, lalu pergi meninggalkanmu sendirian.

Maka...

Pertahankan dia yang bertahan untukmu.

Lepaskan dia yang tidak pernah menghargaimu.

Hati-hati, Hati!



Ketika kamu memancing ikan..
Setelah seekor ikan melekat di mata kail..
Kamu harus mengambil ikan itu..
Jangan begitu saja kamu lepaskan lagi ke air..
Karena ia akan sakit oleh bekas ketajaman mata kail..
Dan mungkin saja ia akan menderita selama hidupnya..

Pun kamu..
Ketika berani mengatakan cinta kepada seseorang..
Setelah memberi banyak harapan padanya..
Setelah ia mulai menyayangimu..
Kamu harus menjaga hatinya..
Jangan meninggalkannya begitu saja..
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu..
Dan mungkin saja ia tak akan bisa melupakanmu selama hidupnya..

Jika kamu memiliki lukisan cantik..
Anggaplah ia sekedar perhiasan biasa..
Jangan terlalu memuja keindahannya..
Kalau kamu menganggapnya yang terbaik tanpa cela..
Maka suatu saat kamu menemukan satu bagian saja yang rusak..
Kamu sulit untuk menerimanya..
Akhirnya ia dibuang..
Padahal jika kamu coba memperbaikinya, mungkin lukisan itu masih bisa digunakan lagi..

Begitu juga jika kamu mengenal seseorang..
Anggaplah dia manusia biasa..
Terimalah apa adanya..
Jangan terlalu mengaguminya..
Jika kamu menganggapnya yang paling sempurna dan istimewa..
Maka, ketika dia sekali saja melakukan kesalahan..
Kamu tak bisa terima..
Kamu kecewa dan meninggalkannya..
Padahal jika kamu memaafkan..
Mungkin saja hubunganmu akan terus hingga ke jenjang yang lebih membahagiakan..

Jika kamu sudah memiliki sepiring nasi..
Yang baik untuk dirimu..
Berkhasiat..
Mengenyangkan..
Janganlah kamu sia-siakan..
Mencoba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan..
Suatu saat, nasi itu akan basi dan kamu tidak bisa lagi memakannya..
Kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu seseorang..
Yang bisa membawa kebaikan pada dirimu..
Menyayangimu..
Mengasihimu..
Mengapa kamu sia-siakan..
Lalu coba membandingkan dengan yang lain.. Terlalu sibuk mengejar kesempurnaan..
Suatu saat, kamu akan kehilangannya ketika dia sudah menjadi milik orang lain..
Kamu juga akan menyesal..

Diciptakan Do'a, Agar Aku Bisa Mencintaimu Dari Kejauhan

Karena bingung mau posting artikel apaan, akhirnya iseng-iseng saya nulis uisi romantis untuk LDR alias hubungan jarak jauh. Puisi ini saya tulis untuk wanita-wanita yang sedang berjauhan dengan suaminya, entah karena sedang bertugas membela negara atau sedang menjadi TKP (Tenaga Kerja Pria) ke luar negara. Puisi ini tidak baik untuk orang pacaran. Karena pacaran juga memang tidak baik. Selamat membaca! :)

Diciptakan Do'a, Agar Aku Bisa Mencintaimu Dari Kejauhan


Jika benar ini namanya rindu..
Biarlah perasaan ini kusampaikan melalui do'a..

Aku sentuh kamu dalam setiap doaku..

Sebab kamu terlalu indah dan istimewa..
Maka, aku meletakkan kamu di tempat yang paling suci dalam hatiku: di sebelah Tuhan.

Karena yang istimewa itu..
Bukanlah yang selau ada di depan mata..
Tetapi, yang namanya sering kusebut di dalam setiap doa-doa..
Dan itu ialah namamu..

Untuk sekedar kamu tahu..
Namamu selalu ada dalam ruang hatiku, yang paling dalam..
Walau tak besar, tapi cukup tersimpan rapi..

Karena itu..
Kusimpan namamu dalam sujudku..
Aku sering berdoa tanpa pengetahuanmu..
Tapi Tuhan tahu..
Betapa aku sangat sayang kamu..

Dan dalam sujud cinta itu..
Aku selalu mendoakanmu..
Keselamatan kamu..
Kesehatan kamu..
Kebahagiaan kamu..

Semoga Allah menjagamu..
Dipermudahkan segala urusanmu..
Jaga diri..
Jaga hati..
Jaga iman..
Ingat Allah..
Ingat Sholat..
Jangan risau dengan aku di sini..

Percayalah..
Dimanapun aku berada..
Dengan siapapun aku bersama..
Aku tetap kamu yang punya..

Tak mengapa tak bersentuh tangan..
Karena kita sudah bersentuh dengan doa..
Walau tempat kita berbeda..
Tapi Tuhan kita sama..
Do'a kita sama..
Harapan kita sama..

Meski jarak mengunci langkah kaki..
Meski waktu bergerak tanpa henti..
Kamu tahu?
Cinta ini tak kan beranjak pergi dari hati.

******

Saking Galaunya Sampai Susah Harus Memberi Judul Apa


Mengenalmu membuatku bahagia, di mataku kamu adalah seseorang yang memiliki segalanya, penuh pesona, dari penampilan hingga cara kamu berkata-kata.

Tapi mengenalmu ternyata juga menciptakan kecewa, kamu memang memiliki segalanya, termasuk sudah memiliki dia.

Tapi kamu terlalu indah, untuk membuatku begitu saja menyerah. Aku sudah cinta kamu, sejak pertama kali bertemu.

Kodratnya manusia memang ingin selalu untung, dikasih hati minta jantung. Pun aku, sudah bisa mengenalmu, sesudah itu tiba-tiba ingin memilikimu, tak peduli walau sudah ada dia di hatimu. Bagiku selama sebelum ada janur kuning melengkung, harapan itu belumlah berujung.


Dan senyum-senyum yang terus kamu beri, membuatku semakin percaya diri, bahwa hadirku cukup berarti, bagi hatimu yang sebenarnya telah berisi.

Lalu sekarang tau-tau kita telah terjebak, dalam kesalahan indah yang entah bagaimana nantinya sukar ditebak.

Kuakui aku telah salah, membuat setiamu sedikit goyah, membuat perhatianmu pecah dan terbelah, namun sedikit banyak kamu pun turut bersalah.

Kau ingat saat pertama kali tanganmu kugenggam? Tak nampak sedikitpun di wajahmu rona keberatan, kamu hanya diam lalu tersenyum seperti mempersilahkan, dan pada akhirnya kamu justru balas menggenggam. Atau ketika bahumu kurangkul erat, kamupun membalas dengan begitu hangat.

Jangan pula menyalahkan keadaan, kenapa kita terlambat dipertemukan, salah kita sendiri yang terlalu cepat mengumbar perasaan.

Kini betapa lengkapnya hidupmu, memiliki segalanya yang kamu mau, bahkan bisa memiliki dirinya sekaligus diriku.